16 Juli 2013

Patingtung


A. Maksud dan tujuan Seni Patingtung
Istilah Patingtung secara pasti belum diketahui berasal dan kata atau istilah apa, namun yang dipahami oleh masyarakat, kata Patingtung dapat diuraikan menjadi tiga buah suku kata, yaitu : p ting rung yang berasal dan Pk suara gendang kulanter atau iIpk (Kendang kecil yang diberdirikan), ThIg suara gendang jpjjjg (Kendang Kecil yang dibaringkan) dan Twig adalah suara kendang atau bedugyangbesar (Nenok, 2000:15).
Seni Patingtung gerak dasarnya didominasi oleh gerakan pencak silat, mulai dan gerakan pembukaan sampal penutupan. Oleh karena itu Seni Patingtung identik dengan pencak silat. Seni Patingtung biasanya disajikan baik secara tunggal, duet, maupun kelompok yang kadang-kadang diselingi dengan seni tari yang atraktif seperti tari piring atau debus. Jurus silat yang dijadikan dasar sama seperti jurus-jurus silat pada umumnya.
B. Latar Belakang Sejarah dan Fungsi Seni Patingtung
Lahirnya Seni Patingtung tidak diketahui secara jelas, namun pada umumnya kelompok Seni Patingtung berkembang pada masyarakat Banten yang berbahasa Jawa. Menurut data dan informasi yang ada, sementara dapat disimpulkan bahwa munculnya Seni Patingtung bersamaan dengan masa berkembangnya zaman Kesultanan Banten sekitar tahun 1552 (Team Study Pengembangan Kesenian Tradisional Serang, 1992:68). Anggapan seperti itu muncul karena pada zaman Kesultanan Banten semua aspek kehdiupan masyarakatnya berkembang termasuk seni tradisional rakyat. Kemudian munculnya seni tradisional Banten tidak bisa dilepaskan den syiar Agama Islam yang dilakukan oleh para ulama dan tokoh agama.
Menurut cerita dan mulut ke mulut, Seni Patingtung muncul pada mulanya sebagai alat para ulama untuk mengumpulkan masyarakat, misalnyajika sudah waktunya shalat selalu ditabuh bedug atau gongyang bunyinya gong-gong, tung-tung, dan tong-tong. Dewasa ini Seni Patingtung telah berkembang sebagai seni pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan. Masyarakat sering menganggap pertunjukan Seni Patingtung sebagai ungicapan rasa syukur atas peristiwa penting, seperti khitanan, kawinan, dan sebagainya. Oleh karena itu Seni Patingtung itu dipertunjukkan setelah upacara-upacara penting itu selesai dilaksanakan dengan lancar dan selamat.
C. Pertunjukan Seni Patingtung
Urut-urutan pertunjukan Seni Patingtung dapat dikelompokan ke dalam tiga tahap, yaltu tahap sebelum pertunjukan, tahap pertunjukan dan tahap setelah pertunjukan.
a. Tahap sebelum pertunjukkan
Tahap sebelum pertunjukan adalah proses untuk mempersiapkan sarana, misalnya mempersiapkan tempat pertunjukkan dalam bentuk panggung. Ukuran panggung tempat pertunjukkan bervariasi, ada yang luas, ada yang disesuaikan dengan kondisi tempat dan kemampuan (ada yang dengan ulcuran panggung 6m lebar 4m dan tinggi panggung antara lm-2,5m). Panggung yang sudah dibuat kemudian dihias dengan berbagai bentuk janur dan buah-buahan seperti pisang dan spanduk. Selain itu juga disiapkan gamelan, lampu penerang, pengeras suara termasuk sesajen dalam bentuk:
1) Air teh manis
2) Airthepahit
3) Kopi pahit
4) Kopi manis
5) Kueh tujuh rupa
6) Telor ayam mentah, dan
7) Menyan
b. Tahap pertunjukan
Tahap pertunjukkan adalah tahap pelakonan seni Patingtung dalam bentuk tari karawitan, dan ketangkasan dalam memainkan alat sebelum pertunjukkan dimulai diawali dengan doa shalawat.
Pertunjungkan Patingtung biasanya dibuka dengan pertunjukkan tari tunggal yang diiringi dengan musik gembrung (musik trompet) dengan senggakan-senggakan dan lagu-lagu instrumental terompet seperti: Adem Ayem, Numpak Sado, Uti-Uti Un.
Pertunjukkan dilanjutkan dengan tarian sambutan yang dimainkan oleh dua orang penari dengan gerakan-gerakan berkelahi dengan tangan kosong. Biasanya ada selingan acara dalam bentuk bobodoran dengan model dialog dan tari ketangkasan membawa piring.
Tarian berikutnya adalah tarian rampak yang dimainkan oleh tiga orang penari laki-laki yang diiringi gamelan pencak silat. Babak berikutnya adalah mengajukan Tari Pasangan pakai alat yaitu Trisula dan Tongkat atau Toya yang terbuat dan bambu. Tari pasangan ini mempertunjukkan perkelahian dengan tehnik menyerang dan tehnik menangkis.
Pertunjukkan diakhiri dengan tari tunggal mempergunakan golok dengan atraksi kekebalan tubuh oleh sayatan dan bacokan golok sendiri. Biasanya ditambah dengan acara debus dengan menampilkan ketangkasan mengupas kelapa dengan gigi, menggesek-gesek golok ke leher dan anggota tubuh lainnya, berguling-guling di atas dun paku, memakan bohiam, bara api, menggoreng kerupuk diatas kepala dan mengeluarkan kelelawar dan mulut.
c. Tahap setelab pertunjukan
Tahap setelah pertunjukkan adalah tahap untuk membereskan semua perlengkapan yang digunakan baik yang melekat pada tubuh setiap pemain melepas peralatan-peralatan yang ada di panggung pertunjukkan.
D. Pemain dan Waditra Seni Patingtung
Pemain seni patingtung terdiri dan penari dan pengrawit. Penari dapat juga disebut sebagai pesilat, karena pada dasarnya pemain patingtung adalah anggota perkumpulan persilatan tertentu. Untuk menjadi penari dibutuhkan persyaratan tertentu, seperti:
a) Mengucapkan bismillah 5 x dan shalawan 5 x
b) Menjauhkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama seperti: mencuri, berzina, berjudi, mabuk.
c) Harus beragama Islam dengan mengucapkan Syahadat
Jumlah penari antara 10 15 orang dengan pembagian tugas sebagai berikut:
  • Untuk membawakan tarian tunggal
  • Untuk membawakan tarian sambutan
  • Untuk membawakan tarian pasangan dengan menggunakan alat golok, trisula dan tongkat atau toya.
  • Untuk membawakan tarian rampak
  • Untuk membawakan tarian tunggal dengan menggunakan alat golok.
  • Untuk membawakan tarian piring.
Sedangkan pengrawit adalah pemain yang memainkan seperangakat waditra yang terdiri dan 8 orang waditra. Waditra yang digunakan dalam seni patingtung adalah:
a) Kendang besar
b) Kendang kecil
c) Terompet
d) Gong dengan 3 macam ukuran
e) Ketuk
f) Kecrek
Selain waditra, juga terdapat peralatan tambahan untuk kelengkapan permainan, yaitu trisula, tongkat atau toya dan golok.

E. Busana Yang Digunakan Dalam Seni Patingtung
Busana yang digunakan dalam seni patingtung merupakan busana adat yang didominsai oleh warna hitam, yang terdiri dan baju, celana, lomar/ikat kepala dan ikat pinggang.
  • Baju : Baju potongan kampret, yaitu baju potongan tanpa kerah, berkantung dua dibagain bawah kin dan kanan serta bertangan panjang.
  • Celana : Celana potongan pangsi, yaitu celana dibuat tanpa kantong dan tanpa ikat pinggang.
  • Lomar / Terbuat dan kain batik loreng, berbentuk IkatKepala segi tiga atau segi empat yang dilipat menjadi segi tiga.
  • Ikat pinggang : Terbuat dan kain warna merah, berbentuk persegi panjang.
Oleh : Bahrudin/smt6.

15 Juli 2013

RAMPAK BEDUG TUNAS MERAK




Kata bedug sedah tidak asing lagi bagi telinga bangsa Indonesia. Bedug hampir terdapat disetiap mesjid, sebagai alat atau benda informasi datangnya waktu sholat 5 waktu. Demikian juga dengan seni bedug semacam ngabedug sudah akrab ditelinga kita. Tapi "Rampak Bedug" akan terasa asing , sebab "Rampak Bedug" hanya tedapat di daerah Banten. Kata "Rampak" mengandung arti serempa, juga banyak, jadi "Rampak Bedug" adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa banyak bedug yang di tambuh secara serempak sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.
 
Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, persis seperti seni ngabedug dan ngadulag. Tetapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual.
Rampak Bedug selain berfungsi religi yakni menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan dengan alat - alat memang dirancang para ulama juga memiliki fungsi rekreasi/ hiburan.

Busana yang di pakai oleh pemain Rampak Bedug adalah pakaian muslim dan muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan.
Pemain laki - laki, misalnya mengenakan pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari - taria tradisional, tapi bercorak kemoderan dan relative religius, misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar dan didalamnya mengenakan celana panjang warna merah sejenis celana panjang pesilat. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan ikat pingggang besar . Adapun rambutnya menenakan sejenis sanggul bunga yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang. 

Berikut adalah salah satu sanggar yang berada di Jl. Raya Serang KM.2 Kadumerak Karangtanjung - Pandeglang - Banten.

ma.attaqwa.yastu

Sejarah Rampak Bedug  Tunas Merak didirikan oleh Bapak Husni Hadi Kurniawan, S. Ag, yang pada saat itu beliau sebagai guru Seni Budaya juga sebagai pembuat langsung bedug-bedug yang ada di MA At-Taqwa YASTU dan secara kebetulan beliau juga sedang menjabat sebagai Kepala di sekolah pada waktu itu.
Kelompok rampak bedug ini awalnya dibentuk dari anggota Kelompok Teater, yang sebagai lurah saat itu adalah sdr. Sela Aprianti. dari kuatnya minat siswa-siswi ini untuk berkarya dan berkesenian, juga secara tidak langsung mereka ingin ikut mengembangkan kesenian "Rampak Bedug" yaitu budaya dari daerah sendiri, maka di akhir tahun 2011 tepatnya bulan Oktober berdirilah Rampak Bedug Tunas Merak  beserta sanggarnya..
ma.attaqwa.yastu


Seiring waktu berjalan, Rampak Bedug Tunas Merak ini berkembang sangat cepat dan sekarang sudah dapat melebarkan pengalaman pentasnya sebagai tamu undangan untuk memeriahkan  acara-acara formal, seperti pentas rampak bedug dan upacara adat di acara perkawinan, Family gathering di hotel, villa, kantor-kantor, gedung pertemuan dan lain-lain. (Yudhistira Hermawan Prasetya/smt6 )

tradisi zaman dulu, dengan lampu sederhana (cemprong)






Lampu Cemprong

Cemprong salah satu lampu antik yang di gunakan orang-orang dulu untuk mendapatkan penerangan sebelum terdapat listrik, lampu cemprong sering kita temui pada rumah bangunan tua yang terdapat orang-orang zaman dulu akan tetapi sekarang ini hanya sebagian bahkan jarang yang menggunakan lampu cemprong untuk penerangan saat mati lampu.
Bentuknya yang unik dan ukuran yang beragam membuat cemprong masih eksis untuk di produksi. Lampu cemprong yang terbuat dari kaca dan bahan keramik di bawahnya untuk menampung minyak tanah agar dapat menyalakan api dan di tutupi dengan kaca dengan bentuk yang menarik juga terdapat sumbu di dalamnya.
Banyak yang mengetahui apa itu lampu cemprong apalagi jika anak-anak muda zaman sekarang di tanya mengenai lampu cemprong yang mereka tau untuk penerangan mati lampu itu seperti emergency, senter, dan lilin. Lalgu bagaimana engan cemprong?...
Cemprong merupakan termasuk seni dalam penerangan zaman dulu selain obor yang praktis di bawa sebagai penerangan untuk pergi-pergian. Cemprong memiliki bentuk seni yang unik cara pembuatannya pun terlihat sulit, harganya yang mahal pada zaman kejayaannya dulu membuat cemprong tidak kehilangan peminatnya salah satunya Ibu menah, Nenek yang usianya hampir 80 tahun ini mengaku bahwa Dia adalah peminat cemprong selain praktis peneranganannya pun bisa lebih terang dari lilin. “ dulu sebelum ada listrik sejak saya masih mempunyai warung di pinggir jalan sana (sambil meraba dan menunjuk ke arah depan) hampr di setiap ruangan saya pasang cemprong karena listrinya masih jarang pada waktu itu “ ujarnya.
Lampu cemprong memang saat ini tidak sepopuler lampu emergency, senter dan lilin. Namun keunikan dan terang yang di hasilkan dari cemprong ini tidak kalah terangnya.(chita veliciana dewi/51110015)

Golok banten






Golok Banten, warisan jawara banten

Serang (12/07), bertempat di depan mesjid agung serang, Pak Ola salah satu penjual golok khas banten. Di temui sedang mengusap-usap golok dagangannya. terdapat hal menarik saat melihat salah satu golok yang di jualnya. Golok tersebut merupakan golok khas banten atau lebih di kenal dengan golok ci omas. Golok banten yang yang sudah puluhan tahun menjadi senjata khas orang- banten ini berbeda – beda macam dan fungsinya, seperti yang Ola tunjukan dengan gagang kepala macan. golok ini terdapat tulisan arab dan di gunakan hanya untuk menjadi senjata penjaga.
 Berbeda dengan golok-golok lainnya yang biasa di gunakan hanya untuk mencabut rumput atau memotong kayu. Harganya pun berbeda dan untuk melakukan transaksinya ada ritual khusus. menurut Ola “ memang ga bisa saya gambarkan secara langsung bagaimana proses ritualnya atau cara jual belinya yang pasti kalo orang awam yang tidak tahu dengan ciri khas dan kegunaan golok ini, pasti tidak percaya”.

Golok yang mempunyai ciri khas dengan tulisan arab di dalamnya menjadi golok satu-satunya yang sulit untuk di produksi selain memakan waktu hampir 3 bulan golok ini pun jarang di produksi untuk berjualan sehari – hari. Terbuat dari bahan yang berbeda dengan golok biasanya, golok ini hanya di produksi jika terdapat pelanggan yang memesan untuk di buatkan golok ciomas dengan gagang kepala macan ini. 

“Sudah 15 tahun saya berjualan golok rata-rata yang minta di buatkan golok ini ( sambil membuka golok andalannya yang berkepala macan) itu hanya orang-orang tertentu yang pesan, kebanyakan sich para jawaran banten. Tapi kalo untuk golok biasa, saya suka menjualnya ke kampung-kampung” ujarnya.

Golok yang merupakan warisan turun temurun menjadi sebuah karya seni. Keindahan golok di lihat dari gagang dan sarungnya. Golok yang di gunakan para jawara banten untuk mempertahankan diri dari serangan musuh serta sebagai lambang kehormatan sebagai jawara. Menjadikan golok banten masih tetap ada sampai saat ini dan masih sering di produksi bagi orang-orang yang tau akan sejarah golok banten atau golok ciomas yang sudah mendunia.(Chita Veliciana dewi/51110015)