A. Maksud dan tujuan Seni Patingtung
Istilah
Patingtung secara pasti belum diketahui berasal dan kata atau istilah
apa, namun yang dipahami oleh masyarakat, kata Patingtung dapat
diuraikan menjadi tiga buah suku kata, yaitu : p ting rung yang berasal
dan Pk suara gendang kulanter atau iIpk (Kendang kecil yang
diberdirikan), ThIg suara gendang jpjjjg (Kendang Kecil yang
dibaringkan) dan Twig adalah suara kendang atau bedugyangbesar (Nenok,
2000:15).
Seni Patingtung gerak
dasarnya didominasi oleh gerakan pencak silat, mulai dan gerakan
pembukaan sampal penutupan. Oleh karena itu Seni Patingtung identik
dengan pencak silat. Seni Patingtung biasanya disajikan baik secara
tunggal, duet, maupun kelompok yang kadang-kadang diselingi dengan seni
tari yang atraktif seperti tari piring atau debus. Jurus silat yang
dijadikan dasar sama seperti jurus-jurus silat pada umumnya.
B. Latar Belakang Sejarah dan Fungsi Seni Patingtung
Lahirnya
Seni Patingtung tidak diketahui secara jelas, namun pada umumnya
kelompok Seni Patingtung berkembang pada masyarakat Banten yang
berbahasa Jawa. Menurut data dan informasi yang ada, sementara dapat
disimpulkan bahwa munculnya Seni Patingtung bersamaan dengan masa
berkembangnya zaman Kesultanan Banten sekitar tahun 1552 (Team Study
Pengembangan Kesenian Tradisional Serang, 1992:68). Anggapan seperti itu
muncul karena pada zaman Kesultanan Banten semua aspek kehdiupan
masyarakatnya berkembang termasuk seni tradisional rakyat. Kemudian
munculnya seni tradisional Banten tidak bisa dilepaskan den syiar Agama
Islam yang dilakukan oleh para ulama dan tokoh agama.
Menurut
cerita dan mulut ke mulut, Seni Patingtung muncul pada mulanya sebagai
alat para ulama untuk mengumpulkan masyarakat, misalnyajika sudah
waktunya shalat selalu ditabuh bedug atau gongyang bunyinya gong-gong,
tung-tung, dan tong-tong. Dewasa ini Seni Patingtung telah berkembang
sebagai seni pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan. Masyarakat
sering menganggap pertunjukan Seni Patingtung sebagai ungicapan rasa
syukur atas peristiwa penting, seperti khitanan, kawinan, dan
sebagainya. Oleh karena itu Seni Patingtung itu dipertunjukkan setelah
upacara-upacara penting itu selesai dilaksanakan dengan lancar dan
selamat.
C. Pertunjukan Seni Patingtung
Urut-urutan
pertunjukan Seni Patingtung dapat dikelompokan ke dalam tiga tahap,
yaltu tahap sebelum pertunjukan, tahap pertunjukan dan tahap setelah
pertunjukan.
a. Tahap sebelum pertunjukkan
Tahap
sebelum pertunjukan adalah proses untuk mempersiapkan sarana, misalnya
mempersiapkan tempat pertunjukkan dalam bentuk panggung. Ukuran panggung
tempat pertunjukkan bervariasi, ada yang luas, ada yang disesuaikan
dengan kondisi tempat dan kemampuan (ada yang dengan ulcuran panggung 6m
lebar 4m dan tinggi panggung antara lm-2,5m). Panggung yang sudah
dibuat kemudian dihias dengan berbagai bentuk janur dan buah-buahan
seperti pisang dan spanduk. Selain itu juga disiapkan gamelan, lampu
penerang, pengeras suara termasuk sesajen dalam bentuk:
1) Air teh manis
2) Airthepahit
3) Kopi pahit
4) Kopi manis
5) Kueh tujuh rupa
6) Telor ayam mentah, dan
7) Menyan
b. Tahap pertunjukan
Tahap
pertunjukkan adalah tahap pelakonan seni Patingtung dalam bentuk tari
karawitan, dan ketangkasan dalam memainkan alat sebelum pertunjukkan
dimulai diawali dengan doa shalawat.
Pertunjungkan
Patingtung biasanya dibuka dengan pertunjukkan tari tunggal yang
diiringi dengan musik gembrung (musik trompet) dengan
senggakan-senggakan dan lagu-lagu instrumental terompet seperti: Adem
Ayem, Numpak Sado, Uti-Uti Un.
Pertunjukkan
dilanjutkan dengan tarian sambutan yang dimainkan oleh dua orang penari
dengan gerakan-gerakan berkelahi dengan tangan kosong. Biasanya ada
selingan acara dalam bentuk bobodoran dengan model dialog dan tari
ketangkasan membawa piring.
Tarian
berikutnya adalah tarian rampak yang dimainkan oleh tiga orang penari
laki-laki yang diiringi gamelan pencak silat. Babak berikutnya adalah
mengajukan Tari Pasangan pakai alat yaitu Trisula dan Tongkat atau Toya
yang terbuat dan bambu. Tari pasangan ini mempertunjukkan perkelahian
dengan tehnik menyerang dan tehnik menangkis.
Pertunjukkan
diakhiri dengan tari tunggal mempergunakan golok dengan atraksi
kekebalan tubuh oleh sayatan dan bacokan golok sendiri. Biasanya
ditambah dengan acara debus dengan menampilkan ketangkasan mengupas
kelapa dengan gigi, menggesek-gesek golok ke leher dan anggota tubuh
lainnya, berguling-guling di atas dun paku, memakan bohiam, bara api,
menggoreng kerupuk diatas kepala dan mengeluarkan kelelawar dan mulut.
c. Tahap setelab pertunjukan
Tahap
setelah pertunjukkan adalah tahap untuk membereskan semua perlengkapan
yang digunakan baik yang melekat pada tubuh setiap pemain melepas
peralatan-peralatan yang ada di panggung pertunjukkan.
D. Pemain dan Waditra Seni Patingtung
Pemain
seni patingtung terdiri dan penari dan pengrawit. Penari dapat juga
disebut sebagai pesilat, karena pada dasarnya pemain patingtung adalah
anggota perkumpulan persilatan tertentu. Untuk menjadi penari dibutuhkan
persyaratan tertentu, seperti:
a) Mengucapkan bismillah 5 x dan shalawan 5 x
b) Menjauhkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama seperti: mencuri, berzina, berjudi, mabuk.
c) Harus beragama Islam dengan mengucapkan Syahadat
Jumlah penari antara 10 15 orang dengan pembagian tugas sebagai berikut:
- Untuk membawakan tarian tunggal
- Untuk membawakan tarian sambutan
- Untuk membawakan tarian pasangan dengan menggunakan alat golok, trisula dan tongkat atau toya.
- Untuk membawakan tarian rampak
- Untuk membawakan tarian tunggal dengan menggunakan alat golok.
- Untuk membawakan tarian piring.
Sedangkan
pengrawit adalah pemain yang memainkan seperangakat waditra yang
terdiri dan 8 orang waditra. Waditra yang digunakan dalam seni
patingtung adalah:
a) Kendang besar
b) Kendang kecil
c) Terompet
d) Gong dengan 3 macam ukuran
e) Ketuk
f) Kecrek
Selain waditra, juga terdapat peralatan tambahan untuk kelengkapan permainan, yaitu trisula, tongkat atau toya dan golok.
E. Busana Yang Digunakan Dalam Seni Patingtung
Busana
yang digunakan dalam seni patingtung merupakan busana adat yang
didominsai oleh warna hitam, yang terdiri dan baju, celana, lomar/ikat
kepala dan ikat pinggang.
- Baju : Baju potongan kampret, yaitu baju potongan tanpa kerah, berkantung dua dibagain bawah kin dan kanan serta bertangan panjang.
- Celana : Celana potongan pangsi, yaitu celana dibuat tanpa kantong dan tanpa ikat pinggang.
- Lomar / Terbuat dan kain batik loreng, berbentuk IkatKepala segi tiga atau segi empat yang dilipat menjadi segi tiga.
- Ikat pinggang : Terbuat dan kain warna merah, berbentuk persegi panjang.
