Kata bedug sedah tidak
asing lagi bagi telinga bangsa Indonesia. Bedug hampir terdapat disetiap
mesjid, sebagai alat atau benda informasi datangnya waktu sholat 5
waktu. Demikian juga dengan seni bedug semacam ngabedug sudah akrab ditelinga kita. Tapi "Rampak Bedug" akan terasa asing ,
sebab "Rampak Bedug" hanya tedapat di daerah Banten. Kata "Rampak" mengandung arti serempa, juga banyak, jadi "Rampak Bedug"
adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa banyak bedug
yang di tambuh secara serempak sehingga menghasilkan irama khas yang
enak didengar.
Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, persis seperti seni ngabedug dan ngadulag. Tetapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual.
Rampak Bedug selain berfungsi religi yakni menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan dengan alat - alat memang dirancang para ulama juga memiliki fungsi rekreasi/ hiburan.
Busana yang di pakai oleh
pemain Rampak Bedug adalah pakaian muslim dan muslimah yang disesuaikan
dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan.
Pemain laki - laki, misalnya mengenakan pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari - taria tradisional, tapi bercorak kemoderan dan relative religius, misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar dan didalamnya mengenakan celana panjang warna merah sejenis celana panjang pesilat. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan ikat pingggang besar . Adapun rambutnya menenakan sejenis sanggul bunga yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.
Pemain laki - laki, misalnya mengenakan pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari - taria tradisional, tapi bercorak kemoderan dan relative religius, misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar dan didalamnya mengenakan celana panjang warna merah sejenis celana panjang pesilat. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan ikat pingggang besar . Adapun rambutnya menenakan sejenis sanggul bunga yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.
Berikut adalah salah satu sanggar yang berada di Jl. Raya Serang KM.2 Kadumerak
Karangtanjung - Pandeglang - Banten.
Sejarah Rampak Bedug Tunas Merak didirikan oleh Bapak Husni Hadi Kurniawan, S. Ag, yang pada saat
itu beliau sebagai guru Seni Budaya juga sebagai pembuat langsung bedug-bedug
yang ada di MA At-Taqwa YASTU dan secara kebetulan beliau juga sedang
menjabat sebagai Kepala di sekolah pada waktu itu.
Kelompok
rampak bedug ini awalnya dibentuk dari anggota Kelompok Teater, yang sebagai lurah saat itu adalah sdr. Sela Aprianti. dari kuatnya minat siswa-siswi ini untuk
berkarya dan berkesenian, juga secara tidak langsung mereka ingin ikut mengembangkan kesenian "Rampak Bedug" yaitu budaya
dari daerah sendiri, maka di akhir tahun 2011 tepatnya bulan Oktober berdirilah Rampak Bedug Tunas Merak beserta sanggarnya..
Seiring waktu
berjalan, Rampak Bedug Tunas Merak ini berkembang sangat cepat dan sekarang sudah dapat melebarkan pengalaman pentasnya sebagai
tamu undangan untuk memeriahkan acara-acara formal, seperti pentas rampak
bedug dan upacara adat di acara perkawinan, Family gathering di hotel, villa,
kantor-kantor, gedung pertemuan dan lain-lain. (Yudhistira Hermawan Prasetya/smt6 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar